Pesanan Terakhir

Wahai MUJAHID DAKWAH!

Puluhan tahun lamanya, pendengaran, pergaulan, ketekunan, kegiatan berjuang, kerana jerih payah dan pembantingan tulang yang tiada hentinya, engkau telah kaya dengan pengalaman.
Engkau sekarang telah jadi.
Engkau telah memiliki pengertian dan ukuran, engkau telah turut menentukan jarum sejarah seperti orang lama.
Engkau telah sampai pula ke batas sejarah, kini dan nanti.
Engkau telah memenuhi hidupmu dengan tekun dan sungguh, ikut memikul yang berat menjinjing yang
ringan, membawa batubata untuk membangun gedung Ummat ini.
Engkau tebus semua itu dengan cucuran keringat dan airmata, kesengsaraan dan penderitaan.
Kawan hidupmu yang menyertaimu dalam segala suka dan duka, telah tak ada lagi.
Ia tak sempat menghantarmu sampai ke batas perhentian. Tengah jalan dia pulang, dan engkau ditinggalkannya di daerah kesepian.
Di atas kuburnya telah tumbuh rumput, daunnya subur menghijau.
Bunga suci aku lihat tumbuh pula di atas pusara sepi itu.
Tangan siapa gerangan yang menanamnya, aku tak tahu.
Biarkan dia tumbuh menjadi. Akan tiba juga masanya bunga suci itu mekar-menguntum.
Eva dan Sofia akan memetik dia kelak, akan mempersunting dia penghias sanggulnya.
Sudikah engkau menulis nisan-kenangan di atas kuburnya, sebagai tanda pembalas jasa, kerana dialah penolong engkau di medan bakti?

Wahai MUBALIGH ISLAM!

Tanganmu telah ikut menulis sejarah. Sejarah perjuangan Umat, sejarah menegakkan Cita dan Agama,
Benang yang engkau sumbangkan telah memperindah sulaman tarik dari Umat ini.
Engkau kini telah menemui bentukmu, sesuai dengan bakat dan kudratmu.
Engkau tidak lagi anak kemarin, tetapi anak kini dan akan pulang lagi meninggalkan bengkalai ini.
Sebagai seroang Jurubicara Umat Islam, engkau telah mempunyai ukuran dan alat penilai; sampai di mana kita dan hendak ke mana lagi.

Pengalaman yang engkau perolehi dan perjalanan yang jauh, akan berguna dan bermakna dalam mencari kemungkinan bagi meneruskan perjuangan Cita di masa hadapan.
Keyakinan yang engkau miliki, jalan panjang yang engkau tempuh selama ini, getir yang engkau derita, segala itu dapat engkau pakai untuk merumuskan bagaimana lagi perjuangan Umat Islam di masa hadapan — setelah ini.
Paparkanlah semua itu kepada generasi muda yang akan mengganti engkau!
Ambillah kesimpulan dan kekeliruan dan kegagalan masa lampau.

Belajar dari masa lalu, terutama belajar dari kekeliruan dan kegagalan yang engkau alami sendiri, dan teman seiringmu juga.
Bukankah kerap engkau benar dalam pendirian tapi salah dalam perhitungan?
Benar dalam prinsip tapi keliru dalam cara? Kejujuran dalam perjuangan memesankan, agar kita mengakui terus terang kekeliruan dan kelemahan diri. Yang demikian itu penting untuk menyusun paduan masa datang, mengendalikan kehidupan Cita dan Agama.
Dalam kekeliruan, kita dapat mengambil makna dan guna.
Kita keliru kerana kita telah berbuat. Ruh-intiqadi yang engkau miliki, janganlah pula engkau pakai untuk melenyapkan segala harga dan nilai, dan angkatan lama yang telah berbuat itu. Mereka adalah anak dan zamannya, dan telah memenuhi tugasnya pula.
Cahaya dan pelita lilin yang lemah serta lembut itu perlu juga dihargai, kerana ia teiah berjasa memecahkan sudut-sudut yang gelap.

sumber : Usrah dan Dakwah Al-Banna; oleh Imam Hassan Al-Banna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s