SEBENAR-BENAR CINTA

Wardah Sufi [Part 4]

***

Ada sebuah kisah tentang cinta yang sebenar-benar cinta yang dicontohkan ALLAH melalui kehidupan Rasul-NYA.

Pagi itu, walaupun Langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap…

Pagi itu… Rasulullah dengan suara terbatas memberikan khutbah…

“Wahai Umatku .. kita semua ada dalam kekuasaan ALLAH dan cinta kasih-NYA. Maka taati dan bertaqwalah kepada-NYA. Ku wariskan dua perkara pada kalian, AL-Quran dan Sunnahku. Barangsiapa yang mencintai sunnahku, bererti mencintai aku, dan kelak orang-orang yang mencintaiku akan masuk syurga bersama-sama aku…”

Khutbah singkat itu di akhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap seluruh sahabatnya satu persatu. Seramai 124 ribu orang sahabat yang sama bilangannya dengan bilangan Nabi dan Rasul telah berjaya dikumpulkan dengan izin ALLAH pada Hajjatul Wada’.

“Allah sudah menawarkan kepada seorang hamba-NYA bagi memilih hidup bahagia di sisi-NYA.”

Abu bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca. Menangis teresak-esak hingga air mata membasahi janggutnya.

Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya.

Usman menghela nafas panjang.

Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Isyarat itu telah datang dan saatnya sudah tiba …

“…Pada hari ini Aku sudah sempurnakan bagi Kamu agama kamu dan Aku sudah melengkapkan nikmat-KU atas kamu, dan Aku redha bagi kamu bahawa Islam itu agamamu…” AL-Maidah : 3

“Rasulullah akan pergi meninggalkan kita semua…”

Keluh hati semua sahabat kala itu…

Manusia yang tercinta itu hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia…

“Ada seorang hamba yang diberi dua pilihan oleh ALLAH, apakah dia mahu dikurniakan perhiasan dunia menurut kemahuannya, ataupun ingin mendapatkan apa yang ada di sisi ALLAH. Dia memilih apa yang ada di sisi ALLAH…”

Abu Bakar menangis apabila mendengar kata-kata Rasulullah S.A.W itu lalu berkata.

“Wahai Rasulullah, kami sanggup menebus tuan dengan ayah dan ibu kami.”

Tanda-tanda itu semakin kuat…

Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Di saat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu…

Matahari kian meninggi, tetapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang didalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-Tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.

“Bolehkah saya masuk?” tanyanya.

Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk.

“Maaflah, ayahku sedang demam.” Kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup daun pintu.

Kemudian Fatimah kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya kepada Fatimah.

“siapakah itu wahai anakku?”

“tak tahulah wahai ayahku, orang sepertinya itu baru sekali ini anakanda melihatnya.” Tutur Fatimah lembut.

Lalu Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah Malakul Maut.” Kata Rasulullah.

Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.

Malaikat maut datang menghampiri, tetapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.

Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia untuk menyambut ruh kekasih ALLAH dan Penghulu dunia ini.

“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan ALLAH?” tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah.

“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu.” Kata Jibril.

Tetapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

“Engkau tidak senang mendengar khabar ini?” Tanya Jibril lagi.

“Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”

“Jangan Khawatir wahai Rasul ALLAH. Aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku : “kuharamkan syurga bagi siapa sahaja kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya.” Kata Jibril.

Detik-Detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas.

Perlahan Ruh Rasulullah ditarik. Kelihatan seluruh tubuh Rasululah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.

“Jibril, betapa sakitnya Sakaratul Maut ini.” Perlahan Rasulullah Mengaduh.

Fatimah memejamkan mata, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam, dan Jibril memalingkan muka.

“Jijikkah kau melihatku, hingga kau memalingkan wajahmu Jibril?” tanya rasulullah kepada Malaikat pengantar wahyu itu.

“siapakah yang sanggup, melihat Kekasih ALLAH direnggut ajal.” Kata Jibril.

Sebentar kemudian kedengaran Rasulullah memekik, kerana sakit yang tidak tertahankan lagi.

“Ya ALLAH, Dahsyatnya nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.”

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu.

Ali segera mendekatkan telinganya.

“Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanukum.”

[Peliharalah solat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.]

Di luar pintu tangis mulai kedengaran bersahutan. Sahabat saling berpelukan.

Fatimah menutupkan tangan di wajahnya. Dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

“Ummati … Ummati … Ummati …”

Dan Berakhirlah kehidupan manusia mulia yang memberi sinaran itu.

“Allahumma Solli A’la Saidina Muhammad Wa Barik wa sallim alaih.”

***

Wardah menarik nafasnya dalam-dalam. Kerna tahu, perjuangan Rasulullah perlu diteruskan. Perjuangan yang  Masih berbaki.

Air matanya di seka.

‘aku merinduimu wahai Kekasih ALLAH…’

***

“Barangsiapa yang berselawat ke atasku sekali, maka ALLAH akan berselawat kepada nya sebanyak Sepuluh kali” Hadith Soheh – Bukhari.

Bersambung…

One thought on “SEBENAR-BENAR CINTA

  1. You post very interesting content here. Your website deserves much bigger audience.

    It can go viral if you give it initial boost, i know very useful service that can help you,
    just search in google: svetsern traffic tips

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s